26.6.11
Extraterrestrial cover version
This is my cover version for Katy Perry-E.T (Extraterrestrial)
9.6.11
Kenapa nama saya Aura Purify??
Aura Purify
Dari lahir saya tidak pernah merasa aneh dengan nama itu, saya menganggapnya wajar-wajar saja. Saya juga heran banyak yang bertanya ada mimpi apa atau peristiwa apa sehingga saya diberi nama seperti itu. Saya baru menyadarinya ketika saya beranjak dewasa dan mulai mengalami peristiwa-peristiwa yang disebabkan oleh keanehan nama saya.
Dari mulai kadang dapat jatah soal ujian untuk agama kristen, dikerumunin bule-bule yang menatap amazing nama saya, dikira bukan orang Indonesia, di-reject ketika add friend di FB (karena ga dikenali), di add friend dan dimasukin family tree keluarga negro yg namanya belakangnya Purify, dikira nama alay, dll. heuh...
Dari mulai kadang dapat jatah soal ujian untuk agama kristen, dikerumunin bule-bule yang menatap amazing nama saya, dikira bukan orang Indonesia, di-reject ketika add friend di FB (karena ga dikenali), di add friend dan dimasukin family tree keluarga negro yg namanya belakangnya Purify, dikira nama alay, dll. heuh...
Saya dari dulu tak pernah diberi tahu oleh orangtua saya kenapa saya diberi nama seperti itu. Yang saya tahu hanyalah sejarah nama panggilan saya Rara yang diberikan oleh ibu saya dan keluarganya. Rara nama saya ini beda dengan nama Rara pada umumnya, Rara yang dimaksudkan disini sebenarnya adalah Ra'ra'/ Rakrak, pakaian Toraja yang terbuat dari emas.
Beberapa hari sebelum saya dilahirkan di Jakarta, nun jauh di Tana Toraja sana, tongkonan nenek saya habis dilalap api, di dalamnya terdapat baju Rakrak yang dijaga turun temurun. Baju itu lenyap sudah entah kemana, kemudian lahirlah saya. Kebetulannya adalah Rara' menandakan darah keturunan murni. Kepercayaan mitos masih berakar kuat di Tana toraja. Dengan lahirnya saya yang notabene campur-campar gak jelas keturunan bermacam suku Nusantara dan ras asing, dianggap lenyaplah kemurnian darah itu pada saya. Jadi harapannya saya dapat menggantikan harta pusaka Rakrak yang lenyap itu. (berat juga ya...hehe...)
Beberapa hari sebelum saya dilahirkan di Jakarta, nun jauh di Tana Toraja sana, tongkonan nenek saya habis dilalap api, di dalamnya terdapat baju Rakrak yang dijaga turun temurun. Baju itu lenyap sudah entah kemana, kemudian lahirlah saya. Kebetulannya adalah Rara' menandakan darah keturunan murni. Kepercayaan mitos masih berakar kuat di Tana toraja. Dengan lahirnya saya yang notabene campur-campar gak jelas keturunan bermacam suku Nusantara dan ras asing, dianggap lenyaplah kemurnian darah itu pada saya. Jadi harapannya saya dapat menggantikan harta pusaka Rakrak yang lenyap itu. (berat juga ya...hehe...)
Mungkin untuk mengimbangi nama panggilan saya yang bernilai tradisional dan historis, ayah saya kemudian memberi saya nama yang modern, kebarat-baratan, Aura Purify. Ayah saya hanya memberi tahu maknanya bahwa ia ingin anaknya memancarkan 'cahaya kebajikan' Aura Purify.
Begitu saja tidak kurang, tidak lebih...
Sekian. :)
7.6.11
Paralelisme Semesta dan Konsep Ilahiah
Udah lama nih, saya gak nulis mengenai sesutu yang setidaknya rada mikir...mm...dan serius dikit, hehe...
Jadi terinspirasi nulis tentang hal ini setelah ngebaca notes-nya mbak Wulanita mengenai realitas yang paralel, serta kegalauan seorang sahabat yang kerap kali mengunjungi kamar saya untuk konsultasi jodoh..:P
“Paralelisme semesta itu bukan suatu kebetulan, melainkan telah diatur sedemikian rupa olehNya.”
Sejak awal penciptaannya hingga sekarang, semesta ini senantiasa bergerak. Bumi yang kita pijakpun bergerak tanpa kita menyadarinya. Bahkan benda yang kita anggap diampun partikel atom penyusunnya senantiasa bergerak, bertumbukan, beresonansi. Begitupun kehidupan ini, senantiasa bergerak menyusuri dimensi waktu. Ia yang Maha Mengatur telah membentuk seluruh jagad raya ini secara detail dan harmonis. Adakah yang demikian merupakan suatu kebetulan? Begitulah semesta ini dan segala isinya diciptakan, dalam Islam hal tersebut merupakan Sunnatullah kehendak dari sang Maha Pencipta.
Semesta ini awalnya merupakan satu kesatuan, maka semua di alam semesta ini secara langsung tak langsung dapat saling berhubungan. Tanpa kita sadari, bisa saja yang terjadi saat ini pada diri kita mempengaruhi kehidupan seseorang di masa depan. Atau mungkin suatu peristiwa yang terjadi di luar negeri saat ini nantinya akan memberi pengaruh besar bagi hidup kita. Tak ada yang tak mungkin, semesta ini bergerak, dan takdir Tuhan tidak ada yang mengetahuinya. Inilah yang saya tangkap dari maksud paralelisme semesta (Cmiiw).
Alam semesta , benda – benda langit bergerak pada porosnya. Kehidupan juga memiliki porosnya sendiri yang memiliki daya untuk dapat menarik hal – hal tertentu masuk ke dalam area “atmosfer” –nya. Porosnya adalah jiwa. Dayanya adalah hati, dan pikiran. Manusia dibekali dengan kekuatan untuk berencana dan bertindak untuk menentukan nasibnya sendiri. Namun takdir yang akan terjadi padanya, Allah telah menentukan dalam Lauhul Mahfudz.
“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu” (QS. Adz-Dzaariat : 22)
Akan tetapi, selama takdir tersebut belum berlaku atau belum terjadi, manusia harus terus berusaha (bergerak) sebagaimana alam semesta ini terus bergerak.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubah apa-apa yang terdapat pada diri mereka...” (QS. 13 : 11)
Demikian pula dalam pencarian jodoh. Dari dulu hingga sekarang saya tetap yakin Jodoh alias soulmate saya telah ditulis dengan jelas di kitab Lauh Mahfudz. Seperti apa dan siapa orangnya, tentunya tidak dapat diketahui. Namun semesta ini paralel, selama takdir belum berlaku, manusia punya daya untuk menarik dan mengikatkan dirinya sesuai dengan kecenderungan jiwanya. Yang dapat saya lakukan sekarang adalah merotasikan jiwa saya pada kecenderungan yang baik, agar mendapatkan soulmate yang baik juga (amiinnn....). Demikian adalah janji Allah yang tertera di Al-Qur’an:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)...” (QS. An- Nuur : 26)
Wallahu a’lam bissawab...
19.5.11
Catatan Perjalananku
Desa Seblat, Bengkulu, 10 Mei 2011
Ketika kuterbangun di pagi ini...
kubuka mata tapi yang ada hanya gelap gulita...tak ada cahaya setitikpun
Astagfirullah, apakah aku telah buta???
Kuraba sekitar, ku sedang terbaring di atas dipan, bersama sahabatku, di suatu desa kecil di pedalaman Bengkulu.
Malam telah berlalu tanpa lampu listrik, hanya redup cahaya lampu minyak dan sinar rembulan serta bintang-bintang menyemarakkan suasana malam di desa ini.
Kuraba kesana kemari mencari benda kecil bernama lampu senter.
Apakah ini sudah masuk waktu subuh??
Akupun tak tahu...
Kuintip dari jendela kamar, suasana subuh hari...
Kabut perlahan-lahan naik, membuka tabir halus putih ringan, menampakkan barisan pepohonan dan bukit-bukit kecil yang mengelilingi desa.
Sementara ayam berkokok bersahut- sahutan menyambut sang mentari yang sinarnya masih malu-malu.
Bagai berada di suatu dunia magis yang begitu jauh...jauh...jauh...
Rumah-rumah beratapkan seng, nampak putih agak kelabu. Sekilas nampak seperti tertutupi lapisan salju.
Udara yang dingin dan susana yang gelap ditutupi kabut, bagaikan berada di belahan bumi utara...
Apakah ini hanya sugestiku saja??
16.3.11
Fight The Future
Almost one year hangin' on my room wall...Graduation....finally, here I come...
My plan to colour this life and to leave my trace in everything I do...
This is the time to accross the bridge between dream and reality, to make it real...
Dream it, do it, and live it.
Takes a lot of strenght...passion...and commitment...
This is the battle, to fight the future...
Now or never...!
28.12.10
Berlin
Saya masih gak ngerti kenapa lagu ini diberi judul Berlin. But after all, I like this song and keep playing it recently.
your single side won't be denied
your melodramatic instant sign
is beyond my reach
missing you is just too much
why don't you just figure it out
you're fading and i'm still waiting
those words that you wrote on the postcard
is as cold as the winter chill
seems to me it's not a priority
it's just another little sign
that you're fading and i'm still waiting
you'll fade away...
Surat Untuk Firman
Tulisan dari salah seorang penulis Indonesia, E.S. ITO...silahkan dinikmati...
Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!
Subscribe to:
Posts (Atom)
