24.6.13

Ending The Feeling

Bisakah kita berbohong pada perasaan?
Bisakah kita mengelabuinya?
Bisakah pikiran dan logika mengatur bagaimana perasaan berkehendak?
Seandainya saja aku bisa, maka aku tidak akan lari darinya.
Perasaanku tak pernah mengenal logika, perasaaanku tak mengenal kompromi

Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan ketika aku hidup dalam kebohongan perasaan adalah dengan lari dan menjauh darinya.
Aku merasa itu jauh lebih baik daripada harus hidup dengan denial, pengelakan terhadap perasaan.
Lebih baik aku pergi menjauh hingga aku merasa tentram, karena ini semua sudah cukup menyiksa.
Aku ingin hidup dengan damai, jiwa dan hati yang damai.
Aku hanya ingin merasa utuh...
Hidup dengan pikiran dan perasaan yang sejalan dan sinkron, tidak bertolak belakang.

Pengorbanan terkadang harus dilakukan
Keputusan yang berat terpaksa diambil




20.6.12

Si Tudung Merah

Ada yang pernah baca kisah anak-anak "Si Tudung Merah?" atau malah pernah nonton versi film layar lebarnya yang berjudul "The Red Riding Hood".

Secara garis besar kisah ini bercerita tentang 'Si Tudung Merah' yang diincar oleh serigala. Si Tudung Merah yang selalu melintas hutan sendirian diincar oleh serigala namun tiap usaha serigala untuk menangkap si tudung merah selalu gagal. Hingga suatu hari ketika si tudung merah hendak melintas hutan untuk menjenguk neneknya yang sedang sakit, serigala yang jahat memiliki ide untuk menyamar sebagai sang nenek yang sedang sakit.

Samaran itu ternyata berhasil memperdaya si tudung merah sehingga serigala berhasil menelan si tudung merah bulat-bulat.

Bagaimana bisa serigala menyamar jadi nenek yang sedang sakit, dan si tudung merah begitu saja percaya?
Sebenarnya sepertinya si tudung merah awalnya pasti merasa yang namanya 'firasat'.
Firasat bahwa yang dihadapinya itu adalah sesuatu yang jahat.

"Nenek kenapa hidungmu begitu besar? Mengapa kulitmu penuh bulu"

Si tudung merah yang sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri kejanggalan-kejanggalan tersebut masih berusaha untuk berfikiran positif. Si tudung merah terlalu naif, terlalu mudah mempercayai orang lain, hingga ia pun mengantarkan dirinya sendiri ke dalam mulut serigala.

Kalau dipikir-pikir lagi, si tudung merah kok bodo banget ya??
Bukan bodoh.....dia itu terlalu baik dan terlalu positif thinking berlebihan sampai pada tahap penghancuran diri sendiri....
Dari kisah ini bisa ditarik kesimpulan berharga bahwa....janganlah terlalu berpikiran positif, berpikiran negatif juga perlu sebagai upaya untuk mawas diri. Dan bahwa 'Firasat' itu adalah sesuatu yang nyata, sesuatu yang dapat menyelamatkanmu sebelum ditelan serigala di saat-saat terakhir.
Karena itu ber Su'udzonlah....:D
Karena Su'udzon juga perlu...

Sebagai penutup cerita, seorang pemburu yang berhasil memburu dan menembak mati sang serigala, membelah perut serigala itu. Kemudian si tudung merah berhasil keluar...bebas lepas dari mulut serigala..
Namun dalam kehidupan nyata akankah itu terjadi?? Aakankah ada pemburu yang akan mengeluarkan kamu dari dalam perut serigala kalau kamu sudah terperangkap begitu dalam....
Maybe ...if miracle happend...

27.4.12

Ijel

Sekitar seminggu yang lalu, tante dan sepupu saya menemukan seorang anak laki-laki di Pare-Pare Sulawesi selatan. Anak laki-laki itu cerdas dan fasih berbahasa Inggris. Dari gerak geriknya yang hiperaktif dan fokus yang berubah-ubah , anak ini mengidap sindrom autisme, seperti adik saya Sugo. Demikian cerita dari sepupu saya waktu itu.

Entah mengapa begitu mendengar cerita dari sepupu saya mengenai Ijel, saya langsung mengetik kata-kata di broadcast backberry. Padahal saya belum bertemu dengan Ijel loo.... Jadilah sebuah pengumuman telah ditemukan anak hilang lengkap dengan nomor kontak saya dan sepupu saya Winda.

Keesokan harinya di sore hari, sseorang wanita bernama Rahma menghubungi saya, dia bilang temannya juga mencari adiknya yang hilang dan kebetulan namanya juga Ijel. Singkat cerita, saya pun dihubungi kakak Ijel ini, dan ternyata memang dia benar kakak Ijel setelah kita coba ia membuktikan diri. Esoknya kakaknya langsung berangkat, dan malamnya dipertemukan dengan Ijel....

Fiuhh...banyak juga yang kami hadapi, miskomunikasi dsb yang sempat menjadi kendala untuk dipertemukannya Ijel dengan kakaknya...tapi Alhamdulillah sekarang Ijel sudah balik dengan selamat ke ruma

Tak saya sangka....penemuan Ijel dan kakknya ini berdampak begitu besar sampe masuk berita segala...

13.1.12

Stranger

Tes..Tes...sudah lama tidak menorehkan jejak di blog saya. Kali ini mumpung pekerjaan tidak terlalu menumpuk saya ingin cerita-cerita lagi.
Pekerjaan saya yang baru satu bulan ini menuntut saya untuk bertemu dengan orang-orang asing (bukan bule yah...) maksud saya adalah 'stranger', orang-orang baru yang belum dikenal. Entah itu selama perjalanan atau di daerah-daerah yang saya kunjungi.
Terkadang saya bertemu dengan beberapa sosok yang menginspirasi saya, kadang ada yang agak-agak bikin sensi.
Seperti misalnya tadi, saya bertemu dengan seorang dokter yang begitu low profile, rendah hati, tapi begitu inspiratif. Di lain waktu saya bertemu dengan seorang polisi yang begitu luwes dan jenaka. Terkadang saya bertemu dengan seorang bawahan yang sok penting, padahal bos nya sendiri tidak begitu.
Hwah, selama sebulan ini banyak yang lucu-lucu. Kadang di perjalanan saya bertemu dengan ibu-ibu di busway, ngobrol-ngobrol panjang lebar dari masalah mudik tahun baru, birokrasi pemerintah hingga ujung-ujungnya saya jadi tahu tentang sebuah pusat pengobatan di Jogjakarta untuk saudara saya yang membutuhkan.
Pernah juga di bus saya bertemu bapak-bapak, yang berasal dari menado kerja di pelayaran, dari dia saya dapat info harga-harga rusun dan peluang bisnis rusun dijadikan kontrakan. Dari dia saya jadi tahu bagaimana menaikkan harga pasaran kontrakan, dan kebetulan saya juga ada rencana untuk berbisnis di bidang ini.

Stranger...Orang asing...
Kita diajarkan dari kecil untuk takut pada orang lain yang tidak dikenal, atau bahkan yang kelihatannya berbeda dari kita. Namun dibalik dari itu, ketika kita membuka hati, membuka pikiran..banyak hal tertentu yang bisa kita pelajari dan dapatkan dari para stranger...
Open up your heart, and you will learn many things...

16.11.11

Seberapa Geje kah Blog Ini

Blog saya Geje...Blog saya Geje>>>blog saya Geje...Gejekah blog saya?

Betulkah itu?? Tanpa sadar sudah 3 tahun saya mengelola blog ini dari tahun 2008, 3 tahun?? Yak 3 thun...perihh.. Sementara blog ini masih begini-begini saja, kayaknya yang baca dikit dan ga begitu populer2 amat wkwkwk (ngarep ye bu??)

Saya awalnya ingin menampilkan image seorang wanita baik-baik, muslimah, anak itb yang ga pernah macem2. Namun seiring perjalanan waktu, kadang saya punya ide untuk nulis cerpen2 aneh. Seperti yang nampak di beberapa postingan saya yang bawahnya tertulis *to be continued-tapi ga pernah ada sambungannya itu. 
Setelah saya rekam jejak kembali ke masa lalu di postingan blog saya yang awal berjudul “Bismillah-Hajimemashite!!” postingan itu bercerita tentang keseharian anak biologi itb yang mencoba melalui kehidupannya sehari-hari. Lalu berlanjut ke isi pikiran saya yang ga penting, pengalaman2 yang bikin terkekeh2, sampe bronis saya yang gagal, bahkan materi kuliah saya pun saya masukin di blog, (tadinya tujuannya biar bisa dibuka pas online bisa sambil belajar :P). Karena semua hal tersebut begitu anehhh, saya ingin menampilkan image yang lebih cool....calm...confidence.....(bukan rokok yeee....). Tapi tetap beginilah saya se-jaim dan se-high level nya postingan saya pasti akan kembali dan tetap akan kembali ke postingan yang bertemakan satu hal : “ke-GEJEan “ *backsound suara petir dan halilintar.

Mengapa?? Karena menulis hal yang serius itu begitu sulit...meneteskan keringat darah dan air mata begitu derasnya...sehingga saya pun males posting...hehehe...salut deh buat temen2 saya yang rajiinn banget meng update blognya dengan hal-hal yang berguna....saya menyadari ternyata menulis cerita-cerita geje itu lebih terasa mudah dan membahagiakan saya daripada yang seriuss...beneran deh...serius inih...:D

Kalo ada yang tanya “Mana lanjutan ceritanya?? Kok To Be Continued melulu tapi ga pernah ada lanjutannya??” Itu memang karena ceritanya tida ada lanjutannya cyinn...jadi, dari pada menulis FIN, THE END, SELESAI, TAMAT, saya tulis aja To Be Continued biar berasa nonton film seri barat :P

Apakah ada yang membaca blog ini??
Saya ga yakin, adakah?? Kalo ada.....Selamat, Anda baru saja menambah hidup Anda dengan hal yang tak berguna :D Kalo yang ga baca, Rugi deh looo!!!..:P


To Be Continued (Seriusan inihh!!)

31.10.11

Galaksi Kinanti, Kenyataan pahit kehidupan segelintir wanita Indonesia

Sudah lama ingin menulis tentang ini tapi baru sempat kali ini saya tulis (hehe..). Novel yang menghenyukkan perasaan saya hingga meneteskan air mata ketika membacanya. Kisah kehidupan Kinanti, seorang anak gadis dari Gunung Kidul yang ditukar oleh orang tuanya dengan 50 kilogram beras. Kinanti disekolahkan oleh majikannya ke Bandung untuk sekedar ‘agak lebih pintar’ untuk kemudian dipekerjakan sebagai TKW ke negara arab. Nasibnya sebagai TKW pun tidak berjalan mulus, berkali ia disiksa oleh majikannya, berkali-kali pula ia lari dan gonta-ganti majikan. Hingga suatu hari ia diculik dan jadi korban human trafficking (perdagangan manusia). Ia pun hanya bisa bersabar pada nasibnya ketika majikannya ikut membawanya ke Amerika, dimana ia menerima penyiksaan yang lebih parah dari sebelum-sebelumnya. Hingga ia sampai pada titik dimana kehidupan berbalik padanya. Ia menjadi warga negara Amerika dan disekolahkan oleh pemerintah Amerika hingga ia meraih gelar Profesor.

Kisah perih Kinanti di novel ini membuka mata saya, bahwa sebenarnya bisa saja banyak para wanita di luar sana yang kemungkinan besar kurang lebih bernasib sama dengan Kinanti. Bekerja mencari penghidupan di negeri orang karena keadaan keluarga yang kurang menguntungkan, namun ternyata malah siksaan yang diterima. Kinanti adalah salah satu potret kehidupan para tenaga kerja kita. Sudah banyak sekali kasus yang berkaitan dengan kekerasan pada para TKW yang diangkat ke media. Kasus yang hampir sama kerap berulang lagi dalam kurun waktu tertentu, itupun yang sempat terekam oleh publik, bagaimana dengan yang tidak diketahui?

Tenaga kerja wanita di Indonesia merupakan penyumbang devisa terbesar bagi negara, begitu ungkapan yang kerap terdengar. Namun apakah  harga yang harus dibayar oleh para wanita ini sebanding dengan resiko dan ancaman yang akan mereka hadapi di tanah asing? Apakah sistem perlindungan tenaga kerja kita tidak dapat memberikan rasa aman dan stabilitas bagi saudara-saudara kita yang bekerja sebagai TKW, sehingga kasus kekerasan pada para TKW terulang dan terus terulang? Jika pengiriman TKW dihentikan seberapa besarkah dampak yang ditimbulkan bagi pemasukan devisa negara? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dalam benak saya sekelabat ketika membaca novel ini. Entah pada siapakah pertanyaan ini pantas ditujukan.

Terlepas dari itu semua, kembali saya teringat kisah masa kanak-kanak dongeng wanita-wanita yang begitu terhormat, di kisah Rama- Shinta, Roro Jonggrang, hingga para srikandi pejuang kemerdekaan seperti ibu Cut Nyak Dien, R.A Kartini, wanita-wanita Indonesia yang anggun begitu berharga dan berwibawa. Kenapakah harkat wanita Indonesia harus tercoreng dengan kisah TKW-TKW ini? Mengapa Indonesia tidak dikenal karena mengirim tenaga kerja intelektual ke luar negeri, seperti pada masa Malaysia baru merdeka? Kemanakah harga diri bangsa ini?? Kemanakah nilai moral dan wibawa bangsa yang besar ini?

4.9.11

Kisah Cinderoro, Mihong Lampir, Pangeran Ganteng, Ksatria Awan dan Dua Maho----Part 1


Alkisah di suatu waktu pada zaman dahulu kala di Negeri Antah Berantah, hiduplah seorang pangeran rupawan yang kaya raya bernama Pangeran Ganteng. Tak hanya tampan, rupawan, serta kaya raya, Pangeran Ganteng juga baik hati dan cinta tanah air. Wajarlah jika ia menjadi rebutan para wanita di seantero jagad raya.
Namun Pangeran Ganteng tak jua memilih seorang pun diantara para wanita tersebut. Pangeran Ganteng merasa belum menemukan tambatan hatinya yang sejati. Ia kini hanya hidup sendiri di kastilnya yang megah, bertemankan nyanyian syahdu, menanti hari perjumpaannya dengan wanita kekasih hatinya, tapi entah kapan hari itu akan tiba. Pangeran Ganteng hanya menatap kosong kearah lembah dan pepohonan, kemudian nun jauh di cakrawala sana...akankah wajah cantik kekasih hatinya terbit dari ufuk timur bersama indahnya mentari pagi?

Sementara jauh di sana, di tepi sungai, di seberang hutan yang dihuni monster-monster jahat, hiduplah seorang wanita cantik nan sederhana bernama Cinderoro. Cinderoro tinggal bersama seorang Nenek Sihir jahat yang bernama Mihong Lampir. Setiap hari Cinderoro yang cantik jelita hanya disuruh bekerja...bekerja...dan bekerja oleh Mihong Lampir. Cinderoro tak bisa mengenal indahnya dunia, ia terkurung bertahun-tahun lamanya, hanya mendengar teriakan dan tawa jahat Mihong lampir. Hingga di suatu malam...Cinderoro yang sabar dan baik hati, tak kuasa lagi menahan penderitaan ini. Di malam itu, Cinderoro memutuskan untuk lari dari cengkraman Mihong Lampir yang jahat...


Malam itu Pangeran Ganteng merasa galau yang teramat sangat. Ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan keluar kastil menikmati dinginnya malam dan bulan purnama. Ia  memacu kuda putihnya perlahan keluar gerbang kastil, menerobos gelapanya malam yang hanya diterangi bulan purnama. Kelam dan temaram, seperti sepi yang dirasakan oleh Pangeran Ganteng, kapankah kesepian dan kesendirian ini akan berakhir? Kapankah ia akan bertemu dengan gadis cantik tambatan hatinya?

Pangeran Ganteng hanyut begitu dalam pada kegalauannya hingga ia tak sadar sudah melewati daerah Rimba Jahat, tempat bermukim monster dan mahluk-mahluk sihir yang jahat. Di saat akan berbalik arah, tiba-tiba kedua matanya menangkap dua sosok berjubah merah merebak dari gelapnya malam. Salah satu diantara mereka berdiri di tengah jalan menghentikan laju kudanya.

“Stop, berhenti!” ujar seseorang berjubah merah yang berdiri menghentikan kuda Pangeran Ganteng.
“Kamu siapa?!! Mau kamu apa?!!” Pangeran Ganteng bersiap menghunus pedangnya ketika tiba-tiba sosok berjubah merah itu membuka tudung yang ia kenakan, menampakkan senyum merekah dihias gincu yang tebal.
“Aww...Ganteng...jangan marah-marah gitchu dong...tolongin akyu dong...kaki akyu sakitt...boncengin akyu pulang doongg...” Pangeran Ganteng tidak yakin apakah yang dilihatnya ini seorang wanita atau bukan, tapi nampaknya ia tak berbahaya. Segera dimasukkannya lagi pedangnya ke dalam selongsongnya. Ia pun lalu turun dari kudanya, ingin melihat wajah orang itu lebih dekat.

“Kenalin...ganteng...namakyuu  Mahombreng, panggil aja akyu Lusi...muach...” ujar mahluk berjubah merah yang baru saja mengenalkan dirinya sebagai Lusi, sembari  mencolek pinggang Pangeran Ganteng dan mengedip-ngedipkan matanya.
Pangeran Ganteng kebingungan, seumur-umur baru kali ini ia bertemu dengan mahluk Mahombreng seperti ini. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana.
“Oh, nama saya Pangeran Ganteng, karena saya memang ganteng...” ujar Pangeran Ganteng sambil tersenyum rupawan, senyum yang bisa melelehkan ribuan pulau es. Mahombreng Lusi pun meleleh habis, tak sabar ingin segera meraup mangsanya ini.
“Yuk, anterin akyu yu...akyu takut disinih gelaapp...” ujar Mahombreng Lusi sambil mulai merangkul tangan Pangeran Ganteng. Pangeran Ganteng tak berdaya selain hanya mengikutinya saja.

“Eh...gelo lohh...gua duluan yang ngeliat dia, lu main embat ajah!” ujar mahluk berjubah merah yang satu lagi sembari mendekat ke arah Lusi dan Pangeran Ganteng.
“Eh setann loohh...maen nyamber mangsa ajah...!! Hai Ganteng...hati-hati, ellu jangan mau aja diajak sama dia, mending sama gue ajah...kenalin gue Mahompret, panggil ajah gue, Mawar.” ujar mahluk berjubah kedua sambil menyodorkan tangannya pada Pangeran Ganteng dan melemparkan ciuman maut.
“Saya Pangeran Ganteng.” Jawab Pangeran Ganteng sembari menyambut tangan Mawar, ia berusaha bersikap wajar dan sesopan mungkin.
“ih...unyu bangets deh kanyu gantengg...gueh jadi makin gemmess...ihihimm..” Mawar terkikik sambil mencubit pipi Pangeran Ganteng.
“Jangan dengerin dia Ganteng...Yuk..bantuin akyu naik ke kuda muh yuu...”ujar Lusi sambil menarik tangan Pangeran Ganteng ke arahnya.
“Ganteng, ikut sama gue ajah yuu...jangan sama dia...yah..”ujar Mawar sambil menarik tangan Pangeran Ganteng juga ke arahnya.
“Heh! Mahompret...!! kan akuhh duluan yang nyamperin diaa...si ganteng ini milik akyu!!” ujar Mahombreng sambil menatap sinis pada Mahompret, dan menarik lengan Pangeran Ganteng.
“Enak ajah!! Yang ngeliat duluan kan gueh!! Si ganteng ini jelas milik gueh!! Ujar Mahompret tak mau kalah menarik lengan kekar Pangeran Ganteng.
Pangeran Ganteng semakin bingung, diperebutkan oleh dua mahluk yang tak jelas ini. Ia tak tahu lagi harus bagaimana.
“Milik akyu!!”
“Punya gueh!!”
“Akoohh!!”
“Gueeeeeh!!!”
“Akoohh!!”
“Guehh!!”

Sementara malam semakin larut, purnama yang temaram mulai ditutupi awan, lolongan serigala terdengar di kejauhan. Pangeran Ganteng tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat untuk lari dari kedua mahluk itu.



Sementara itu, di sisi lain hutan, dibawah naungan purnama yang sama, nampaklah Cinderoro yang sedang berlari kebingungan. Nafasnya tersengal-sengal, ia tak berani menoleh kearah belakang, yang ia tahu hanya berlari dan terus berlari, kemanapun kedua kakinya membawanya pergi. Pergi jauh...menjauhi pondok yang telah ia diami bertahun-tahun...menjauhi Mihong Lampir  dan segala penderitaan yang telah disebabkannya  selama ini...
Diam-diam Cinderoro mengambil dan mempelajari buku sihir Mihong Lampir tanpa sepengetahuannya. Ternyata Cinderoro memiliki kekuatan sihir yang begitu besar, yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Cinderoro merasa Mihong Lampir mengetahui bakat sihir Cinderoro, namun Mihong Lampir tak pernah mengizinkan Cinderoro untuk belajar sihir. Ia hanya terus memperbudak Cinderoro...Kini saatnya Cinderoro untuk pergi dan menentukan takdirnya  sendiri...

Cinderoro menghapus sedikit peluh di keningnya dan merapatkan jubahnya, terus berlari mengacuhkan dingin dan gelapnya malam...


To Be Continued...