2.2.14

Prinsip Ukur Tinggi Badan

Ingatkah kita semua ketika masih kecil, sedari bayi hingga balita ukuran panjang tubuh selalu diukur. Orang tua kita mengukur tinggi badan kita untuk mengetahui pertumbuhan kita. Biasanya ada sebuah meteran bergambar jerapah yang ditempel di dinding, lalu selang beberapa lama kita diminta berdiri disana. Dengan cara ini orang tua kita bisa tau sudah berapa sentimeter kita bertambah tinggi dibandingkan hari kemarin.

Ketika sudah dewasa, konsep mengukur tinggi badan ini entah kenapa jadi terlupakan begitu saja.
Contoh kasus: Pada suatu hari, sebut saja dia si Aura (nama disamarkan), sedang iseng membuka Facebook dari laptopnya. Di laman Beranda terlihatlah foto-foto dan status teman-teman masa kecil, teman kuliah hingga kolega kerjanya.
" Alhamdulillah semoga menjadi keluarga SAMARA"
"Selamat yaa atas kelahiran anak pertamanya"
"Selamat yaa pertunangannya, semoga lancar sampai ke pelaminan"
adalah menjadi kalimat yang semakin sering diketik oleh jari jemarinya di keyboard tiap membuka FB. Tak hanya sampai di situ, #kepo dot kom berjalan terus di FB.
"Wahh si A kayaknya udah jadi pengusaha sukses"
"Wow..si B sekarang udah jadi manager"
"Si C udah phD ajee gille hebat benerr"
"Buset deh enak banget ya kerja di perusahaan asing, jalan2 ke luar negeri mulu"
Lalu muncullah kalimat :
"Orang-orang udah pada kemanaaa kok gua begini-begini aja yaak....."
Nah, sampai sini kita titik dulu (titik).
Kelanjutannya bisa begini:
"Oke baiklah, karena yang lain sudah pada sukses, aku akan membuktikan aku juga akan sukses sebagai ratu jengkol" atau
"Umur gw udah segini, teman gue udah pada punya anak. Oke, target lebaran haji gua udah naik pelaminan, jadi istri ke empat pak camat"
Di dalam dunia yang serba ideal, keadaan seperti itu 'katanya' mestinya bisa menjadi motivasi kita untuk maju. Namun yang terjadi kadang adalah....
"Hiks...hiks...hiks...Entah apa yang salah sama diri gue, kenapa gue ga bisa kayak orang laen....#galau"
Nah, saat seperti inilah bahaya mulai terjadi. Pikiran seperti ini bisa menjadi cikal bakal kegelisahan berkepanjangan yang tak hanya menguras energi, tapi juga waktu dan pikiran. Bahkan mungkin menguras isi kantong anda untuk membeli tissue atau pengobatan medis (jika sudah sangat ekstrim, jangan sampek yaa).

Ingatlah selalu prinsip tinggi badan. Sejauh apa kita berkembang, diukur dengan membandingkan diri kita sendiri di hari ini dan di hari kemarin. Tidak fair namanya jika kita membandingkan dengan orang lain. Karena setiap orang punya flow perkembangannya masing-masing. Jadi, setiap kali teringat kunjungilah 'papan pengukur jerapah'-mu supaya tau sejauh apa kita sudah bertumbuh. Demikianlah caranya fair pada diri sendiri, dan punya tolak ukur yang lebih akurat.


No comments: